Sudahkah Green Movement Mendapat Tempat di Kalangan Konsumen Indonesia?

dok. sinar mas land

Jakartakita.com – Di banyak tempat di dunia, Green Movement sudah mendapat tempat di kalangan Konsumen, Pemerintah dan Industri, sehingga konsumen lebih memilih menyewa di Green Building ketimbang bangunan biasa. Bagaimana dengan di Indonesia?

Ignesjz Kemalawarta, Head of Corporate Governance & Sustainable Development Sinar Mas Land mengungkapkan bahwa pada masa lalu, di era 1980-an, sumber daya masih melimpah dan pemanasan global belum menjadi fakta yang menakutkan.

“Kini, menatap masa depan untuk ikut memperbaiki kondisi lingkungan, tidak ada jalan lain selain semua pihak berupaya menerapkan efisiensi energi dan air serta menerapkan low carbon development sekaligus memperhatikan penggunaaan material yang sesuai kaidah lingkungan dalam penataan sebuah Green Building,” jelasnya, dalam siaran pers yang diterima Jakartakita.com, belum lama ini.

Lebih lanjut, Ignesjz juga menjelaskan bahwa dengan penerapan efisiensi energy, pihak pengelola gedung akan diuntungkan dengan berkurangnya biaya energi, yang juga akan menurunkan biaya operasional bangunan dan akan lebih tahan terhadap kenaikan biaya energi di masa datang.

Lantas, bagaimana spesifikasi Green Building yang sesuai dengan standard international ?

Menurut Ignesjz, bangunan yang dirancang dengan konsep green building, dikembangkan sebagai bangunan sehat dimana keberadaan udara segar (fresh air) sudah sejalan dengan standard international (ASHRAE). Oleh karena itu, keberadaan CO2 akan dimonitor terutama di ruangan yang ditempati orang dalam jumlah banyak seperti ruang rapat dan auditorium, agar selalu berada di bawah ambang batas aman.

Gedung tersebut juga akan menghindari penggunaan material beracun seperti cat dengan kandungan VOC rendah, alat perekat bebas formaldehyde, pelarangaan asbestos, pelarangan aktivitas merokok serta suhu dan kelembaban yang diatur sesuai kebutuhan dan kenyamanan.

Ditambahkan, bangunan yang dikembangkan dengan konsep Green Building akan melibatkan konsumen dalam bagian menyelamatkan kota lewat kehadiran sistem drainase terpusat yang dibuang ke danau sebelum ke saluran kota sehingga berpotensi mengurangi banjir. Konsumen juga masuk dalam pihak yang peduli terhadap pengurangan penggunaan energi dan air yang semakin terbatas serta lower carbon sebagai upaya mengurangi pemanasan global.

Di Indonesia sendiri, tutur Ignesjz, belum banyak proyek properti yang mengacu pada konsep Green Building. Salah satunya adalah proyek di kawasan Green Office Park (GOP) BSD City.

“Semua bangunan di kawasan ini, dibangun dengan konsep low rise, memiliki Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 25%-35%, serta memiliki fasilitas pengelolaan air dan sampah sesuai dengan standard dari Green District,” ujar Ignesjz.

Dalam kawasan BSD GOP  ini, sambungnya, terdapat 9 gedung perkantoran dan The Breeze sebuah “Mall Without Wall “ khusus Food and Beverages (F/B Mall) yang memiliki fitur – fitur Green, yakni Microclimate Optimization, Green Transport and Integrated Parking, serta Sustainable Management Practice.

Kawasan tersebut memiliki jalur sepeda dan jalur pejalan kaki yang terlindung di sepanjang jalan utama, fasilitas parkir sepeda dan shower room, shuttle bus yang khusus berada dalam distrik, serta lahan parkir yang terintegrasi dalam menjaga kawasan ini sebagai “Green District”.

BSD Citygreen buildingGreen DistrictGreen Office Park (GOP)Koefisien Dasar BangunanSinar Mas Land
Comments (0)
Add Comment