3 Catatan Penting Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2 untuk Atasi Tantangan Literasi Papua

Jakartakita.com Wahana Visi Indonesia (WVI) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung literasi anak-anak di tanah Papua melalui kegiatan “Serah Terima Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2”. Ini merupakan hasil kolaborasi bersama Teach for Indonesia Bina Nusantara (BINUS) University, Jakarta International University (JIU), dan Universitas Pelita Harapan (UPH).

Sebanyak 1.080 eksemplar buku cerita akan hadir pada 45 rumah baca dampingan WVI di Papua untuk anak-anak serta guru relawan setempat.

Foto: WVI

Berikut 3 catatan penting yang disoroti, dilansir dari siaran pers WVI, 6 Januari 2026.

  1. Literasi Papua Masih Menjadi Tantangan dan Membutuhkan Perhatian

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2024 mencatat tingkat literasi Papua baru mencapai 47,57%, menunjukkan kesenjangan yang perlu segera diatasi. Tantangan literasi masih menjadi persoalan serius di Papua. Tentu ini menjadi tantangan bagi masyarakat Papua termasuk anak-anak untuk mencapai potensi terbaiknya serta kualitas hidup yang lebih baik.

“Wahana Visi Indonesia percaya bahwa setiap anak berhak belajar dengan baik dan bermimpi. Namun anak-anak Papua masih menghadapi tantangan besar dalam literasi. Kolaborasi ini menjadi bagian dari solusi atas tantangan akses buku bacaan bagi mereka. Bukan hanya bacaan yang menarik dan kreatif, namun juga relevan serta dekat dengan kehidupan anak-anak Papua,” ujar Asteria Aritonang, Resource Development & Communications Director Wahana Visi Indonesia.

  1. Cerita yang Kontekstual dan Dekat dengan Budaya Papua

Kolaborasi “Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2” ini menghasilkan 24 buku cerita anak yang merefleksikan budaya, nilai, dan kehidupan sehari-hari anak Papua. Penulisnya adalah pengajar dan pendamping masyarakat Papua yang memahami konteks kehidupan anak secara langsung, sehingga cerita terasa relevan, kreatif, dan dekat.

Foto: WVI

Program ini melanjutkan inisiatif literasi sejak 2024, yang pada tahap pertama menghasilkan 10 buku kontekstual Papua. Tahap kedua diperluas dengan melibatkan UPH dan JIU, serta berkolaborasi dengan ilustrator yang melakukan riset dan diskusi mendalam dengan penulis agar ilustrasi sesuai budaya dan menarik bagi anak-anak Papua.

Menurut mahasiswa Binus & student volunteer Kind Circle (KinCcr), Valencia Yolanda, proses menciptakan Buku Baca Cerita untuk Anak Papua ini memiliki dinamika dan tantangannya tersendiri karena jarang melihat keseharian anak Papua.

“Untuk menciptakan ilustrasi yang tepat, saya harus memahami lebih dari sekadar teks, termasuk nilai dan budaya setempat. Saya bersyukur bisa menyelesaikan dua buku cerita dan berharap ilustrasi ini mendekati budaya Papua serta mampu meningkatkan minat baca anak-anak’,” ungkap Valencia.

  1. Ruang Berkarya bagi Mahasiswa untuk Anak-anak Papua

Program ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa BINUS, UPH, dan JIU untuk terlibat sebagai student volunteer yang tergabung dalam komunitas KinCir. Mereka berkontribusi sebagai penulis maupun ilustrator, sekaligus belajar bekerja nyata bagi Papua.

“Tanpa program ini, mahasiswa kami tidak punya kesempatan untuk berkontribusi langsung sebagai student volunteer Kincir WVI. Inilah ruang berharga bagi mereka untuk berkarya dan bekerja nyata bagi Papua. Kami berharap semakin banyak kaum muda terlibat dalam gerakan literasi,” kata Liliek Adelina Suhardjono selaku Deputy Head of New Media Program BINUS.

Melalui inisiatif ini, WVI bersama dengan BINUS, UPH, dan JIU berharap dapat memperkuat budaya literasi dan mendukung anak-anak Papua tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, cakap, dan bangga akan budayanya. (Henry)

anak papuaPapua
Comments (0)
Add Comment