Jakartakita.com – Aplikasi gaya hidup muslim, Muslim Pro meluncurkan Ramadan Re:Charge, sebuah inisiatif Ramadan yang bertujuan untuk mendukung keterlibatan ibadah secara berkelanjutan melalui perpaduan teknologi, konten, fitur komunitas, serta aktivasi di lapangan.
Inisiatif ini juga menegaskan peran strategis Indonesia dalam pertumbuhan jangka panjang dan strategi keterlibatan komunitas Muslim Pro secara global.
Dengan lebih dari 180 juta unduhan di seluruh dunia, Indonesia menjadi salah satu pasar terpenting bagi Muslim Pro, dengan sekitar 3,6 juta pengguna aktif bulanan. Lebih dari sekadar skala pengguna, Muslim Pro mencatat tingkat partisipasi yang konsisten tinggi dari komunitas Indonesia, mulai dari kontribusi dalam pembuatan konten, interaksi di ruang komunitas, hingga keterlibatan dalam berbagai inisiatif berbasis tujuan sosial.
“Indonesia bukan hanya pasar dengan jumlah unduhan yang besar bagi kami, tetapi juga salah satu komunitas yang paling aktif dan berpengaruh,” ungkap Nafees Khundker, Chief Executive Officer Muslim Pro dalam peluncuran Ramadan Re:Charge di Mangkuluhur, Artotel Suites, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
“Ramadan Re:Charge mencerminkan cara kami memandang pertumbuhan, dengan mendukung keterlibatan jangka panjang melalui pembangunan kepercayaan, relevansi, dan kesinambungan, alih-alih berfokus pada lonjakan aktivitas dalam jangka pendek,” sambungnya.
Ramadan Re:Charge berangkat dari pemahaman bahwa menjaga konsistensi ibadah selama satu bulan penuh merupakan sebuah proses yang berjalan dari hari ke hari. Karena itu, alih-alih mendorong intensitas berlebihan, inisiatif ini membingkai progres ibadah sebagai sesuatu yang personal dan penuh empati.
Kampanye ini dipandu oleh lima pilar Re:Charge — Re:Center, Re:Commit, Re:Connect, Re:Share, dan Re:Focus — yang merefleksikan perubahan kebutuhan spiritual dari waktu ke waktu. Kelima pilar tersebut memberikan bahasa yang relevan dengan pengalaman nyata selama Ramadan, serta mendorong pengguna untuk kembali pada niat awal dengan cara yang lebih manusiawi.
Secara keseluruhan, Ramadan Re:Charge mengintegrasikan peningkatan pengalaman Al-Qur’an di aplikasi Muslim Pro, konten reflektif berbasis keimanan, koneksi komunitas digital melalui Ummah Pro, serta pendekatan storytelling yang dipimpin oleh kreator Indonesia di Qalbox.
Inisiatif ini juga dilengkapi dengan aktivasi offline di Jakarta, yang mencerminkan pendekatan Muslim Pro dalam menghubungkan platform digital dengan kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Tahun ini, pengalaman Al-Qur’an menghadirkan berbagai penyempurnaan untuk mendukung beragam pola keterlibatan pengguna, termasuk pengaturan target membaca yang dipersonalisasi, pelacakan progres, fitur pendukung hafalan, serta AiDeen, chatbot berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu pengguna memahami ayat-ayat Al-Qur’an dalam konteksnya.
Pada level produk, Al-Qur’an tetap menjadi salah satu fitur yang paling banyak digunakan di Muslim Pro secara global, khususnya selama Ramadan. Menurut Nafees, momentum Ramadan lebih banyak mendorong intensitas penggunaan dibanding sekadar unduhan baru, meski tambahan pengguna tetap terjadi secara signifikan.
Dari sisi fitur, Al-Qur’an digital menjadi layanan yang paling banyak digunakan baik di Indonesia maupun secara global. Pola ini relatif tidak berubah dibanding hari biasa, tapi durasi penggunaan meningkat selama bulan puasa.
“Fokus kami adalah kesinambungan, bukan kuantitas,” kata Siti Zahidah selaku Public Relations Manager Muslim Pro. “Kami merancang fitur yang mencerminkan bagaimana orang berinteraksi dengan iman dalam kehidupan nyata, di berbagai momen dan tingkat intensitas yang berbeda.”
Konten dan komunitas tetap menjadi elemen penting dalam strategi keterlibatan Muslim Pro. Selama Ramadan, Qalbox akan menghadirkan berbagai program berbasis keimanan, termasuk Rise of Mercy, sebuah serial mikro Islami produksi Indonesia yang dikembangkan oleh Simpul Project dan dipimpin oleh Renaldy Agung Pratama, kreator pemenang Stories by Muslim Pro, festival konten digital perdana yang diselenggarakan pada 2025.
Interaksi komunitas juga diperkuat melalui Ummah, di mana pengguna bisa berbagi refleksi serta berpartisipasi dalam kompetisi foto Ramadan berskala global, dengan 10 peserta terpilih menerima hadiah Badal Umrah.
Di luar ranah digital, Muslim Pro juga akan menyelenggarakan Roving Takjil di Jakarta pada 28 Februari, dengan menghadirkan food truck beridentitas Muslim Pro yang membagikan makanan berbuka puasa di sepanjang rute antar masjid, dan berakhir di Masjid Istiqlal.
Menurut Muslim Pro, Ramadan Re:Charge mencerminkan strategi yang lebih luas untuk membangun keterlibatan jangka panjang, bukan sekadar mendorong penggunaan musiman.
“Tujuan kami adalah membantu pengguna membangun kebiasaan positif selama Ramadan dan seterusnya bersama aplikasi Muslim Pro. Hal ini berarti berinvestasi pada komunitas, konten, dan pengalaman yang ingin terus dihadirkan dan digunakan dalam jangka panjang,” tutup Khundker. (Henry)