Bukan Sekadar Film Horor, Monster Pabrik Rambut Cerminkan Realita Kerja Gen Z dan Milenial Saat Ini

Jakartakita.com – Film Monster Pabrik Rambut yang tayang di bioskop sejak 4 Juni 2026 membuka diskusi mendalam dengan mengangkat kengerian dari fenomena sehari-hari: budaya kerja toksik yang kian dianggap normal.

Horor fantasi ini secara tajam mengeksplorasi praktik eksploitasi di dunia kerja yang ternyata lebih mencekam dibandingkan teror makhluk gaib.

Film Monster Pabrik Rambut. Foto: POPLICIST Publicist Arman Febryan

Realitas yang ada ternyata lebih kuat dibandingkan fiksi apa pun. Berdasarkan Survei Global 2025 Gen Z and Millennial dari Deloitte, 77% Gen Z dan 74% milenial di Indonesia menyebut pekerjaan sebagai sumber utama stres mereka.

Tercatat 57% responden tertekan oleh lingkungan kerja beracun, sedangkan durasi kerja yang berlebihan membebani 56% Gen Z dan 51% milenial. Statistik tersebut tercermin nyata dalam perjuangan Putri, Ida, Bona, Rudi, dan Tohar dalam film Monster Pabrik Rambut.

“Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah ‘monster’ yang sebenarnya. Ada pihak yang mengeksploitasi demi laba pribadi, dan ada yang melanggengkannya dengan membiarkan lembur yang tak wajar terus terjadi. Keduanya membentuk sistem yang harus kita kritisi,” terang Edwin selaku sutradara dalam siaran pers Palari Films, 5 Juni 2026.

Secara umum, sebuah film mungkin tidak menawarkan solusi instan bagi masalah tersebut. Namun, Monster Pabrik Rambut hadir demi memantik hal yang jauh lebih krusial: sebuah diskusi yang kerap kita hindari mengenai sistem kerja yang telah sekian lama dianggap wajar.

“Di bidang apa pun kita bekerja, situasi seperti atasan yang keras, persaingan antar-kolega yang tidak sehat, hingga beban ekspektasi yang mengorbankan kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Inilah monster yang sesungguhnya,” ujar Iqbaal Ramadhan, aktor sekaligus Produser Eksekutif.

Edwin, Sutradara Film Monster Pabrik Rambut. Foto: Palari Films

“Tidak ada ruang bagi kami untuk berpura-pura. Tubuh kami harus merespons tentang apa yang terjadi di depan mata kami,” sambung pemeran Bona di film Monster Pabrik Rambut ini.

Berikut lima alasan mengapa Monster Pabrik Rambut patut Anda tonton:

  1. Horor Indonesia pertama tanpa hantu. Alih-alih setan, Edwin menghadirkan sistem kerja tidak manusiawi sebagai sumber kengerian.
  2. Kolaborasi internasional lima negara. Melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis dalam salah satu proyek sinematik paling ambisius.
  3. Skenario kolaboratif bersama Eka Kurniawan. Ditulis bersama salah satu novelis sastra Indonesia paling berpengaruh di tingkat global.
  4. Penggunaan efek praktikal sepenuhnya. Tanpa CGI, setiap adegan membutuhkan persiapan hingga 30 menit agar elemen visual tersaji sempurna.
  5. Rambut sebagai simbol tekanan. Edwin menjadikan rambut representasi fisik dari stres kerja, seperti kerontokan atau perubahan warna yang mendadak.

Inti cerita film Monster Pabrik Rambut adalah tentang PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam di pabrik rambut. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri.

Iqbaal Ramadhan. Foto: Palari Films

Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya.

BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Namun ada sosok hitam berhasil menyandera Bona.

Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona dan bagaimana nasib para pekerja lainnya di pabrik rambut tersebut? Ikuti perkembangan terbaru melalui Instagram @palarifilms atau kunjungi palarifilms.com. (Henry)

Comments (0)
Add Comment