Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Tragedi Cinta Nyai Dasima

31

nyai dasimaJakartakita.com: Dalam rangka hari kasih sayang atau yang biasa disebut Valentine’s Day,  kali ini jakartakita akan mengulas sedikit kisah drama romantis Betawi yang tidak kalah dengan legenda-legenda cinta dunia, seperti; Romeo-Juliet, Laila-Majnun, Sampek Engtay.

Kisah Nyai Dasima, seorang gundik bule Inggris Tuan Edward, yang menjadi legenda masyarakat Betawi ini berhasil melintasi waktu dan bertransformasi ke dalam berbagai wujud narasi. Perbedaan ras, ketidaksetiaan terhadap komitmen, hingga penaklukan cinta dengan menghalalkan segala cara melatar-belakangi tragedy cinta Nyai Dasima. Mengapa tragedi? Karena akhir cinta Nyai Dasima tidak bahagia, namun berujung pada kematiannya sendiri.

Kisah Nyai Dasima pertama kali dipublikasikan dalam novel berjudul Tjerita Njai Dasima karya Francis Gijsbert pada tahun 1896, kisah ini ditulis ulang oleh sastrawan Indonesia, SM Ardan. Keduanya menampilkan kisah Dasima dengan kacamata berbeda.  Nyai Dasima versi G. Francis, yang pernah menjadi redaktur surat kabar besar pada abad ke-19, menggambarkan selain tuan Edward semuanya jahat. Bahkan direkonstruksi demikian rupa sehingga mencuat citra orang Betawi yang notabene beragama Islam, memiliki sifat-sifat penghasut, haus harta, irasional, berpikiran sempit, pencuriga, perusuh, dan masih berbagai sifat jahat lainnya. Sedang SM Ardan, mencoba meluruskan legenda versi kompeni.

Alkisah dahulu, pada abad ke-19 di daerah Kwitang, hiduplah seorang perempuan cantik jelita lagi bahenol yang menjadi ‘gundik’ dari seorang Inggris bernama Edward W. Tuan Edward sangat menyayangi Nyai Dasima hingga melimpahinya dengan harta.

Kabar tentang kecantikan Nyai Dasima tersebar hingga ke seantero Betawi. Lelaki mana yang tidak terpukau akan kecantikan Nyai Dasima. Salah satu lelaki yang tergila-gila dengan Nyai Dasima adalah Samiun si tukang sado. Samiun yang sudah beristri Hayati gencar melakukan pendekatan dengan berbagai cara. Tentu saja Samiun sudah ‘kongkalikong’ dengan Hayati, agar istri tuanya itu mengizinkannya untuk menikahi Nyai Dasima. Samiun menjanjikan harta berlimpah untuk Hayati.

Akhirnya Samiun memilih jalan memelet Nyai Dasima, dengan bantuan Mak Buyung. Mak Buyung yang waktu itu bekerja sebagai pembantu Nyai Dasima mengambil sehelai rambut Dasima untuk diberikan kepada Samiun sebagai prasyarat prosesi guna-guna. Dan guna-guna pun berhasil, seketika itu Nyai Dasima yang semula memuja pangeran hatinya Tuan Edward berubah menjadi tergila-gila dengan Samiun. Nyai Dasima pun memilih meninggalkan Tuan Edward.

Akhirnya Nyai Dasima menikah dengan Samiun. Sejak saat itu, Nyai Dasima resmi menjadi ‘sapi perahan’ Samiun dan Hayati. Pernikahan yang semula sedemikian indah, lama-kelamaan berubah menjadi ‘neraka’ saat harta Nyai Dasima mulai menipis.  Nyai Dasima yang berasal dari Desa Ciseeng, Parung, Bogor, akhirnya mati dibunuh oleh Bang Puase, jagoan dari Kwitang atas suruhan istri tua Samiun, Hayati.

Menurut versi Ardan, Dasima datang ke Samiun atas kesadaran sendiri ingin lepas dari orang asing. Setelah ia diingatkan hukumnya haram kawin tanpa nikah. HAMKA seorang penulis dan ulama kenamaan juga pernah berkomentar bahwa Dasima rela meninggalkan tuannya dan hidup bergelimang harta setelah diingatkan bahwa dalam Islam mengharamkan zina.

Terlepas dari perdebatan mengenai versi mana yang paling mendekati kisah aslinya. Kisah cinta Nyai Dasima adalah sebuah tragedi yang berakhir menyedihkan. (berbagai sumber/Risma)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: