Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Bioskop Senen, Riwayatmu Kini!

491

Grand TheaterJakartakita.com –  Sekitar tahun 1980-an, saat kehadiran mal belum menjamur seperti sekarang ini. Bioskop pernah menjadi tempat ‘kongkow’ paling gaul bagi para pemuda kota yang haus akan hiburan. Sebelum masa itu, sarana hiburan rakyat untuk menonton film baru terbatas pada layar tancap alias bioskop keliling. Layar tancap yang biasanya digelar pada saat pasar malam ini memang gratis dan ditujukan sebagai sarana hiburan masyarakat kecil di daerah.

Dari masa inilah kemudian dikenal istilah ‘misbar’ atau ‘gerimis bubar’ karena layar tancap biasa digelar di lapangan-lapangan terbuka yang luas tempat rakyat bisa berkumpul sehingga jika gerimis datang penonton pun harus bubar pulang ke rumah masing-masing. Sedang di  gedung bioskop orang tidak perlu khawatir lagi dengan misbar.

Sebetulnya bioskop pertama di Indonesia sudah muncul sejak Desember 1900. Adalah  seorang Belanda bernama Schwarz yang mendirikan bioskop pertama di Indonesia, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, dengan harga karcis kelas I harganya dua gulden (perak) sedangkan kelas dua setengah perak.

Sekitar tahun 1940-an mulai bermunculanlah bioskop-bioskop lain di Jakarta, seperti; Bioskop Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Orion di Glodok, Oost Java di Jl. Veteran, Rembrandt di Pintu Air, Widjaja di Jalan Tongkol/Pasar Ikan, dan lain-lain.

Pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai masa emasnya dengan 3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306 layar. Ketika itu produksi film nasional mencapai 112 judul per tahun.

Kalau dahulu orang mengartikan bioskop adalah satu gedung dengan satu layar pertunjukan. Namun seiring dengan perkembangan zaman telah terjadi pergeseran. Bioskop tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berada di dalam pusat perbelanjaan yang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda, dan di dalamnya memiliki lebih dari satu layar.

Tempat pertunjukkan dengan konsep gedung bioskop lebih dari satu layar itu kini disebut cineplex. Konsep ini sebenarnya sudah muncul di tahun 1978 dengan didirikannya Sinepleks Jakarta Theater oleh pengusaha Indonesia, Sudwikatmono, menyusul dibangunnya Studio 21 pada tahun 1987.

Kehadiran bioskop bermodal besar seperti XXI, membuat perlahan tapi pasti bioskop-bioskop kecil ‘gulung tikar’ karena kehilangan peminat. Ditambah lagi hadirnya Laser Disc (LD), VCD dan lain sebagainya membuat orang semakin malas membuang uang untuk sekedar menonton film di bioskop yang minim fasilitas.

Sebenarnya, tahun 1990-an industri perfilman dan bioskop Indonesia mengalami ‘mati suri’. Geliat perfilman Indonesia  film-film bertema seks yang meresahkan masyarakat. Pada masa ini hanya sedikit dan bisa dihitung jari gedung-gedung bioskop lama yang berdiri di tahun 60-an dan 70-an yang masih bertahan.

Kemunculan film Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho, setelah itu Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC) di tahun 1998 yang sukses di pasaran, menjadi angin segar bagi industri perfilman Indonesia. Bioskop megah kembali ramai penonton, namun tetap saja bioskop ‘jadul’ terpinggirkan.

Salah satu di antara sedikit gedung bioskop lama yang masih bertahan dan tetap eksis sampai sekarang adalah dua gedung bioskop di kawasan Senen, Jakarta Pusat, yakni Mulia Agung Theater dan Bioskop Grand. Kedua bioskop ‘jadul’ tersebut pernah menjadi saksi era keemasan perfilman Indonesia pada 1970-1980-an. Saat itu, berbagai film bagus turut diputar di dua bioskop ini.

Walaupun masih eksis, namun kondisi keduanya sangat mengenaskan, ‘hidup segan, mati tak mau’. Selain tampak luar gedung yang lebih mirip gedung tua berhantu, film-film yang diputar pun tak kalah jadul. Minimnya biaya membuat kedua bioskop ini hanya sanggup menayangkan film-film jadul baik Indonesia maupun asing. Kebanyakan dari film yang diputar pun masuk kategori ‘XXX’. Terlihat beberapa poster erotis lusuh di dinding-dinding bioskop Debu-debu juga menempel pada setiap sisi gedung. Itupun bioskop seringkali gagal memutar film lantaran kurangnya penonton. Pengurus gedung lebih suka mengembalikan uang calon penonton ketimbang menanggung kerugian biaya listrik yang tidak tertutupi dari tiket yang terbeli.

Masuk ke dalam bioskop, tak kalah horor. Hampir di setiap sudut ruangan gedung tua juga terbentang sarang laba-laba. Kecoak dan tikus juga terlihat berkeliaran. Belum lagi pasangan muda-mudi yang terlihat ‘gak bener’ nongkrong di pojokan.

Menurut penuturan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di sekitar bioskop. Bioskop itu memang sering dijadikan tempat mangkal para wanita penjaja cinta, bahkan kaum homo juga sering terlihat bergerombol memadu kasih.

Tampaknya keberadaan dua bioskop jadul di kawasan Senen yang pernah menjadi saksi bisu kejayaan industri film di Indonesia juga tinggal menunggu waktu kapan akan digusur, dan dialihfungsikan. Mungkin sebentar lagi, Bioskop Mulia Agung dan Bioskop Grand akan tinggal kenangan, menyusul bioskop-bioskop jadul lainnya yang sudah ‘diratakan’.

Baca juga http://jakartakita.com/2013/01/14/bioskop-tertua-di-jakarta/

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: