Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Musik Indie Di Era Digitalisasi dan Ajang Pencarian Bakat

309
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Musik Indie pernah menjadi sangat seksi di era keemasannya tahun 90-an. Sampai akhirnya masuk ke tahun 2000-an, lalu masuk ke era ajang pencarian bakat dan era bajak membajak, dimana musik apapun kini bisa diunduh melalui internet.

Sangat menarik disimak, bagaimana saat ini para pemain band musik indie dapat bertahan dan tetap bisa menghasilkan pundi rupiah.

Musik Indie artinya adalah ‘musik yang Independen’, yang berarti merdeka, bebas dari aturan dan kungkungan major label. Indie bukan musik mainstream seperti kebanyakan yang disajikan secara massive di berbagai media, seperti televisi, radio ataupun toko ayam penjual musik.

Adapun para pendengar/penggemar mereka adalah orang-orang berjiwa mandiri, anti mainstream dan juga sudah pasti fanatik mendukung artis lokal. Bisa disimpulkan, hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati musik seperti ini.

“Zaman dulu memang tidak cengeng seperti sekarang ini, semuanya serba instan, semuanya di dikte dan harus dinilai seperti ikut ujian persamaan. Akhirnya jadilah seperti sekarang, seniman teknis tanpa soul di dalam karyanya,” imbuh Andre ‘Bacot’ Tiranda, gitaris Siksa Kubur ketika akan diwawancara.

Ia pun menambahkan, masih berlanjutnya industri musik Indie, mungkin dikarenakan masih ada segelintir anak muda di Indonesia yang ingin mandiri, bebas dan merdeka dari kungkungan penjajahan industri.

Menyoal tentang industri musik yang sudah mati, seperti dilaporkan Majalah Rolling Stones Indonesia belum lama ini, ternyata industri musik belum menunjukkan kematian yang sebenarnya. Mungkin dari segi aktivitas jual – menjual musiknya lah yang mati, namun dari segi show bisnisnya sampai kini masih berjalan dengan baik.

Hal menarik lainnya dari industri jalur musik Indie adalah, beberapa diantara mereka ternyata berhasil menghantarkan musiknya ke mancanegara, dan lebih terkenal disana dibanding di tanah airnya sendiri. Contohnya Siksa Kubur, band ini sampai-sampai diundang dan terbang ke Singapura dan Kuala Lumpur hanya untuk menghibur secara langsung para penggemar mereka yang ada disana.

Berikut ini beberapa pernyataan sikap para musisi perihal industri musik saat ini :

Emil (Bassist Grup Band NAIF) : Jadilah Entertainer Sejati, Sekarang Sudah Susah Nemuinnya

Emil Hussein (Bassist Naif) foto - Jakartakita.com
Emil Hussein (Bassist Naif) foto – Jakartakita.com

Emil Hussein, Bassist Grup Band Naif,  salah satu band pengusung musik retro di Indonesia, mengungkapkan perjalanan awal Naif pada tahun 1994. Band ini terbentuk hanya dari iseng-iseng saja, namun sampai sekarang masih aktif mengeluarkan album baru, walau Emil tahu persis musik yang mereka buat hanya akan diunduh gratis di Youtube. Namun dari situlah undangan main dari panggung ke panggung datang. Inilah yang menjadi omset Naif, pengganti penjualan CD.

Bagi Naif pembajakan bukanlah masalah besar, “Nasi sudah menjadi bubur,” kata Emil seraya tertawa. Positifnya adalah  dengan begitu musik dan image Naif akan semakin solid ke fans dan khalayak ramai. Hasil dari terus berkarya adalah, bisa terus main di even. “Setiap entertainer haruslah menjadi entertainer sejati,” ungkap Emil.

Bagi Emil, apa yang dilakukannya dengan grup bandnya selama ini adalah memisahkan antara bisnis dan menampilkan pertunjukan yang menghibur. “Untuk masalah bisnis kan sudah ada manajer ahlinya,” tandas Emil. Dan apa yang Naif dapat atas konsistensinya dalam bermusik ini, Ia pun tidak tahu menjelaskan bagaimana Naif yang dulu bayarannya hanya dengan nasi kotak, sekarang bisa dibanderol dengan harga ratusan juta sekali manggung.

Muhamad Rival (Bassit Band Steven and Coconut Trees) : Tetaplah Berkarya

foto: istimewa - M. Rival (Bassist - Steven & Coconut Treez dan Pallo)
foto: istimewa – M. Rival (Bassist – Steven & Coconut Treez dan Pallo)

Muhamad Rival, salah satu Bassist band reggae, Steven and Coconut Trees, mengungkapkan saat ini bandnya vakum karena didera kebosanan dalam bermusik. Ia pun mengatakan “Komunitas genre musik yang kami bawakan yaitu Reggae, belum mature di Indonesia, banyaknya poser membuat gua menjadi prihatin,” ungkap pria berambut gimbal ini menyindir halus aksi pembajakan.

Fenomena digitalisasi menjadi pengaruh besar buat kelangsungan band major label, Steven and Coconut Trees. Tidak ingin berhenti bermusik, Rival pun akhirnya membuat band baru yang dinamakannya “Pallo”, berbeda dengan genre yang Ia usung sebelumnya, kini Ia memainkan banyak jenis musik di album terbarunya seperti Folk, Blues, dan Reggae. Rival juga memproduseri sendiri dan mendistribusikan sendiri lagunya lewat jejaring social media, layaknya yang dilakukan band jalur Indie.

Andre “Bacot” Tiranda (Gitaris Siksa Kubur) : Duit mah Gampang, Asal Ada Niat

foto koleksi pribadi narasumber - Andre 'Bacot' Tiranda (gitaris Siksa Kubur)
foto koleksi pribadi narasumber – Andre ‘Bacot’ Tiranda (gitaris Siksa Kubur)

Berbeda lagi pengakuan Andre “Bacot” Tiranda, gitaris Siksa Kubur. Dia mengungkapkan bahwa komunitas dari genre yang dia usung yaitu Grind Core belum redup sampai sekarang. Ini dibuktikan dari penjualan merchandise dari bandnya yang laku keras.

Grind Core adalah aliran musik underground yang penggemarnya terbilang fanatik dan solid. Indonesia sendiri merupakan negara nomor 3 yang memiliki penganut genre Grind Core terbanyak di dunia.

T-shirt Siksa Kubur pun dibandrol dengan harga yang tak terbilang murah, yaitu Rp. 400-500 ribu per piece, lebih mahal dari T-shirt band lawas seperti Metallica, Sepultura, Megadeth, dan lainnya.

Andre mengungkapkan di setiap even musik underground, tim-nya mampu menjual 30 – 40 T-shirt. Namun untuk penjualan CD diakui oleh Andre memang sudah benar-benar mati.

“20 CD bisa laku dalam setahun saja sudah hebat banget, itupun yang beli orang luar,” tandasnya.

Ia juga menambahkan, “Social Media hanya alat untuk membantu kami untuk bisa go international,dan menjangkau teman – teman kami (penggemar) yang jauh disana. Tapi pelaku pembajakan, ya tetap saja anji*g!” tambah pria gondrong dan bertato ini.

Persaingan di industri kreatif khususnya bidang musik memang sangat keras. Perjalanan untuk menjadi terkenal, banyak uang  dan menjadi legend tidaklah semudah yang dibayangkan. Seperti apa yang dituliskan Alm. Bon Scott  (Vokalis AC-DC) dalam lagunya, It’s a long way to the top if you wanna Rock and Roll.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: