Info Jakarta - Berita Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Menikmati Sensasi ‘Ngopi’ di Kedai Kopi Es Tak Kie

592

 

foto: jakartakita.com
 Jakartakita.com – Bagi Anda pecinta kopi yang doyan kongkow di kedai-kedai kopi. Mungkin Anda perlu merasakan sensasi ngopi di kedai jadul yang berada di kawasan Pecinan Glodok ini. 

Namanya  kedai Kopi Es Tak Kie. Kedai kopi yang sudah eksis sejak tahun 1927 ini terletak di dalam sebuah gang sempit bernama Gang Gloria yang saat ini berubah nama menjadi jalan Pintu Besar Selatan III, Glodok. Tepatnya Jalan Gajah Mada, kawasan Pancoran, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. 

Dari luar mungkin kedai ini tak tampak seperti kedai-kedai kopi modern yang menjamur di mal. Namun kedai yang telah menjadi saksi Jakarta sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang ini tak pernah sepi oleh pengunjung. Sejak kedai buka jam 06.30 pagi hingga pukul 14.00 siang, kedai ini selalu dipadati oleh pengunjung yang ingin menikmati racikan khas kopi di kedai ini.

Padahal di kedai ini Anda tidak akan menemukan beragam fasilitas yang biasa Anda temui di kedai kopi modern. Jangankan Wi-fi, AC pun tidak ada. Fasilitas yang ada ya hanya meja kursi jati tua yang keras dan kipas angin tua menemani nikmatnya kopi.

Nuansa ketika memasuki kedai ini akan mengembalikan kita ke film-film kung fu Andy Law atau Jacky Chan. Kursi yang terbuat dari pohon jati masih terawat dan digunakan dalam kedai tersebut. Juga foto-foto saat kedai masih gerobak juga terpajang di sisi tembok kedai Tak Kei. Makanya tak heran kedai ini sering dijadikan lokasi pembuatan film dengan latar tempo dulu.

Artikel Terkait
1 daripada 5

Nama Tak Kie sendiri berasal dari kata “Tak” yang artinya orang yang bijaksana, sederhana dan tidak macam-macam. Sementara kata “Kie” berarti mudah diingat orang. Pemberian nama ini selanjutnya bisa diartikan kedai kopi sederhana yang menyimpan kebijaksanaan dan mudah diingat orang. 

Kedai ini dirintis oleh perantau Cina Daratan, Liong Kwie Tjong, yang kemudian diteruskan oleh Liong Tjoen. Kini kedai ini dikelola generasi ketiganya yakni Latif Yulus atau sering dipanggil Ayauw dan Liong Kwang Joe atawa Akwang.

 

foto: jakartakita.com
 Harga kopi di kedai ini cukup terjangkau, berkisar Rp 12-40 ribu. Selain kopi, pengunjung bisa menikmati aneka kuliner yang dijajakan di sekitar kedai, atau menikmati nasi tim ayam dan masakan ala Tak Kie. Kedai kopi ini buka mulai pukul 06.30- 14.00. Ayauw memang tak menerapkan prinsip berdagang menunggu pembeli hingga sore atau malam. Jika sudah mendekati jam tutup, dia pun menyuruh para pelayannya membereskan ruangan.

Saat ini Tak Kie hanya menyajikan kopi hitam, kopi susu, es kopi, es kopi susu. Namun, ada menu kopi andalan Tak Kie yang harus diminta dengan pesanan khusus, Kopi Tak Tak. Konon begitu kuatnya rasa dan aroma kopi ini, hingga bagi yang jantungnya tidak kuat bisa berbahaya, begitupun yang punya penyakit mag. Barangkali, sajian kopi ini setara dengan kopi espresso.

Pelanggan setia kedai kopi ini adalah orang-orang tua dari generasinya, Ayau melanjutkan kisahnya. Tak banyak generasi muda yang rajin menongkrong di kedai kopinya. Sesekali pelancong mancanegara dan domestik singgah untuk mencicipi menu kopinya.
Tak ada salahnya Anda menyambangi kedai kopi ini untuk menikmati sensasi ‘ngopi’ berbalut nostalgia. Tempat ini juga sangat cocok untuk berfoto-foto. 

 


Interested in writing for Jakartakita.com? We are looking for information and opinions from experts in a variety of fields or others with appropriate writing skills.
The content must be original on the following topics: lifestyle (beauty, fashion, food), entertainment, science & technology, health, parenting, social media, and sports.
Send your piece to redaksi@jakartakita.com

Open chat
1
Hello can we help you?
Powered by