Jakartakita.com
Berita Jakarta, Info Jakarta Terkini, Berita Nasional, Bisnis Jakarta

Kembali Berprestasi, Mahasiswa Universitas Pertamina Sabet 2nd Runner Up Di Ajang ‘Boreyes International Energy Fair 2021’

2,334
foto : istimewa

Jakartakita.com – Industri petrokimia memiliki peran sentral dalam menopang berbagai aktivitas industri lain dan mencukupi kebutuhan harian masyarakat.

Produk-produk petrokimia umumnya digunakan sebagai bahan baku industri turunannya. Sebut saja plastik, serat sintetis, karet sintetis, pestisida, detergen, pelarut, pupuk, dan berbagai jenis obat maupun vitamin.

Pada Tahun 2020, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa kebutuhan produk petrokimia hulu domestik Indonesia mencapai 6 juta ton.

Namun, industri petrokimia di Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 30% dari total permintaan domestik. Sisanya, masih mengandalkan impor.

Pemerintah menargetkan, pada tahun 2025 mendatang, kapasitas produksi nasional bisa mencapai angka 60% sampai 70%.

Berlatar belakang kondisi riil tersebut, tim dari Universitas Pertamina yang menamai diri mereka ATHENA, menyusun proposal pengembangan proyek petrokimia.

Artikel Terkait
1 daripada 16

Melalui proposal ini, tim berhasil menyabet 2nd Runner Up dalam kategori Case Study Competition, di ajang Boreyes International Energy Fair 2021.

Boreyes merupakan ajang internasional yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers Padjadjaran University Student Chapter.

Ketua tim, Muhammad Athallah Naufal mengungkapkan, mereka mengusung solusi pengembangan integrated oil refineries atau kilang minyak terintegrasi.

“Selain minimnya pasokan produk petrokimia, sejak COVID-19 melanda dunia, bisnis migas juga mulai mengalami penurunan permintaan. Sehingga, banyak bahan baku minyak mentah yang tidak terserap. Melalui pengembangan kilang minyak dengan model ini, kita bisa mengalokasikan over supply minyak mentah tersebut untuk meningkatkan kemandirian Indonesia dalam mengolah produk petrokimia,” jelasnya dalam wawancara daring, Kamis (22/4).

Ike Yulianis, anggota tim, menambahkan, “Solusi yang kami gagas sejalan dengan target PT Pertamina (Persero) untuk meningkatkan kapasitas produksi petrokimia menjadi 12 juta ton per tahun pada tahun 2027 mendatang. Melalui Refinery Development Master Plan (RDMP) di sejumlah kilang PT Pertamina (Persero) diantaranya di Kilang Balongan, Cilacap, Balikpapan, Plaju, dan Dumai serta pembangunan kilang baru di Tuban, Jawa Timur.”

Adapun Elizabeth Bella Ruth Septiana, anggota tim lainnya mengatakan, bahwa hadirnya mata kuliah Creative Problem Solving (CPS) dan Critical Thinking (CT) serta kegiatan kuliah pakar sangat membantu dalam menyusun solusi.

“Melalui CPS dan CT, kami diajarkan untuk dapat menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang out of the box dan menemukan ide-ide baru yang didasarkan pada analisa kritis. Selain itu, kuliah pakar ‘UPbringing’ yang menghadirkan para ahli di bidangnya, juga membantu kami memahami kondisi riil yang terjadi di industri saat ini,” tandasnya.  (Edi Triyono)


Pasang Iklan Gratis @ jakartakita.com - klik iklan.jakartakita.com

Interested in writing for Jakartakita.com? We are looking for information and opinions from experts in a variety of fields or others with appropriate writing skills.
The content must be original on the following topics: lifestyle (beauty, fashion, food), entertainment, science & technology, health, parenting, social media, and sports.
Send your piece to redaksi@jakartakita.com

Open chat
1
Hello can we help you?