Info Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Ini Dia… Penyebab Terjadinya Gempa Dashyat di Nepal

275
foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – Sepotong lempengan di permukaan bumi telah bergeser pada Sabtu (24/4/2015) di Nepal. Mengakibatkan terjadinya gelombang kejut diatas permukaan bumi, yang ledakannya seperti terkena 20 senjata termonuklir dan menghancurkan sebagian besar wilayah lembah Kathmandu.

Gempa berkekuatan 7,9, dalam ilmu geologi memang dapat memporak porandakan sebuah kota. Ini kembali terjadi di Nepal setelah 81 tahun terakhir dimana gempa dengan kekuatan yang dashyat juga pernah terjadi pada tahun 1934.

Menurut laporan dari Nepal National Society for Earthquake Technology, terjadinya gempa sebenarnya bisa diprediksi beberapa waktu sebelum kejadian. Ini dikarenakan, kawasan di Indus-Yarlung dikenal juga sebagai zona jahit, dan akan selalu mengalami gempa 8 skala ritcher setiap 75 tahun sekali.

Menurut Nepal National Society for Earthquacke Technology, ini dikarenakan gerakan teratur garis patahan itu membentang sepanjang perbatasan di Nepal bagian selatan, dimana lempengan India bertemu dengan lempengan Eurasia. Ini sudah ada sejak 40 juta sampai 50 juta tahun yang lalu.

“Tabrakan antara lempengan di India dan Eurasia adalah sebuah karya untuk geologi. Sebab lempengan India itu mendorong jalan ke arah utara menuju Asia sekitar lima sentimeter per tahun. Secara geologis itu bergerak sangat cepat,” ujar ahli Geofisika di University of Hong Kong, Lung S.Chan.

Karena terus bergerak, maka lempengan itupun menimbulkan gesekan hingga membangun energi seperti ‘kerak’ yang terpecah, ungkap Dr Chan, yang juga mengatakan gempa ini akan terasa seperti terkena ledakan senjata termonuklir.

Menurut Dr Chan, Nepal adalah daerah rawan gempa bumi, selain dari kekuataan besar yang terjadi akibat tabrakan tektonik, namun juga diperparah karena adanya jenis garis patahan tersebut.

Hal yang paling terkena imbas dari gempa ini adalah Pegunungan Himalaya. Gesekan lempengan yang konstan antara India dan Eurasia telah mendorong hingga ketinggian puncak sekitar satu sentimeter setiap tahunnya.

“Dalam kasus gempa beberapa tahun lalu, gesekan ini bergerak hanya sekitar dua meter,” jelas Hongfeng Yang, ahli gempa di China University of Hong Kong.

Meskipun keteraturan tampak dari gempa bumi yang parah di Nepal, tetap saja akan sulit memprediksi kapan pergesekan lain akan terjadi. “Namun, catatan sejarah dan pengukuran modern pergerakan lempeng tektonik mengindikasikan jika tekanan membangun di wilayah tersebut dilakukan dengan cara konsisten dan homogen, Sehingga, daerah tersebut bisa diprediksi akan terjadi gempa parah setiap empat sampai lima dekade,” tandas Dr. Yang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

IndonesianEnglishDutchChinese (Simplified)Malay
%d bloggers like this: