Jakartakita.com
Berita Jakarta, Info Jakarta Terkini, Berita Nasional, Bisnis Jakarta

Temuan Narkotika Jenis CC4, Bukan Hal Baru Dalam Dunia Medis

0 733

Tiket Pesawat Murah Airy

foto: istimewa
foto: istimewa

Jakartakita.com – CC4 adalah jenis obat-obatan yang dirancang secara medis untuk mengobati ketergantungan seseorang terhadap nikotin. Obat jenis ini memang sudah diteliti sejak 1960-an. “Tapi baru populer sejak tahun 2006,” ujar Mufti Djusnir, Peneliti Senior Badan Nasional Narkotika, Komisaris Besar pada Jumat (10/4/2015).

Seperti dilansir dari Tempo, Mufti menegaskan, dalam dunia farmakologi, obat CC4 ini juga dikenal dengan istilah cyt. Senyawanya bersifat agonis nikotinat. “Jadi bisa memberhentikan ketergantungan terhadap nikotin,” ujar Kepala BNN Nusa Tenggara Barat tersebut.

Obat ini pun mengandung agonis parsial yang dapat mempengaruhi neurotransmitor dan dophamine. “Para pengguna obat ini akan menjadi sangat energik, karena adanya peningkatan aliran darah ke jantung,”. Orang normal antara 4-6 liter,” ujar Mufti.

Artikel Terkait
1 daripada 5

Maka, kerja jantung bisa berpacu cepat dan meningkatkan tensi darah. Para pengguna juga mengalami gangguan psikis bahkan berujung pada depresi. “Mereka yang menggunakan obat ini akan merasakan halusinasi dan ingin melakukan bunuh diri,” tandasnya.

Peredaran obat CC4 di Indonesia terungkap saat Direktorat Narkoba Mabes Polri sidak di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada Kamis malam, (9/4/2015). Dikabarkan peredarannya dikendalikan oleh seorang terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman. Pada saat itu, petugas menyita 120 lembar atau 2000 buah SS4 siap edar.

Obat terlarang yang dikemas seperti perangko itu diketahui memiliki efek 10 kali lebih tinggi ketimbang obat-obatan jenis ekstasi. Mufti menambahkan, untuk saat ini, senyawa CC4 belum masuk dalam daftar obat-obatan terlarang. Itu karena senyawa ini masih dalam proses penyidikan dan pengembangan. “Sejumlah penelitian menyebut penggunaan senyawa CC4 berdampak buruk bagi tubuh. Makanya belum bisa diproduksi,” tegasnya.

Meski demikian, Mufti menerangkan, senyawa tersebut memiliki efek yang buruk seperti halnya penggunaan obat-obatan terlarang yang lainnya. Penggunaan dosis kecil saja bisa berdampak mengerikan. Apalagi kalau digunakan dengan dosis yang tidak terukur. Resikonya bisa berujung kematian.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan komen

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More