Take a fresh look at your lifestyle.

Konsep Cloud Kitchen Bantu Bisnis Kuliner Hadapi Perubahan Kebiasaan Konsumen

0 1,515
foto : ilustrasi (ist)

Jakartakita.com – Kebiasaan konsumen telah mengalami perubahan yang cukup drastis selama masa pandemi.

Tak bisa dipungkiri, perubahan kebiasaan konsumen memaksa bisnis-bisnis yang ada untuk mengubah taktik berjualan mereka. Salah satunya, dengan mulai menggencarkan skema berbasis daring.

Menurut Direktur Eksekutif Nielsen Indonesia, Hellen Katherina, penting bagi pemilik brand untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan konsumen, seperti; konsumsi media, kebiasaan dalam berbelanja, dan aktivitas olahraga pada periode tersebut. 

Hellen menilai, kunci sukses baru dalam berbisnis saat ini adalah penggunaan multimedia dan multiplatform.

“Kami melihat pemilik merek dapat mengoptimalkan perilaku kosumen ini untuk melakukan strategi pemasaran dengan multimedia dan multiplatform sebagai pendekatan yang lebih efektif untuk mendapatkan kepercayaan konsumen. Apalagi di tahun ini, pemerintah tengah melakukan transisi dari pandemi ke endemi,” tutur Helen, seperti dilansir dalam keterangan tertulis, Kamis (21/4).

Perubahan ini pun terjadi di hampir semua bidang bisnis, termasuk bidang kuliner dengan munculnya ide cloud kitchen.

Pemahaman lebih lanjut terkait cloud kitchen

Cloud kitchen, disebut pula sebagai ghost kitchen, secara sederhana merupakan konsep dapur bersama.

Selayaknya sebuah dapur bersama yang besar, sejumlah restoran yang

menyewa tempat di cloud kitchen memiliki hak untuk mengakses dapur operasional yang tersedia.

Akan tetapi, cloud kitchen hanya terbatas untuk pesanan pengiriman.

Sehingga, pelaku bisnis kuliner dapat menekan pengeluaran untuk penyewaan tempat yang luas serta biaya operasional lain terkait fasilitasi layanan makan di tempat.

Related Posts
1 daripada 3,191

Kehadiran konsep cloud kitchen juga membantu bisnis kuliner menghadapi perubahan kebiasaan konsumen. 

Cloud kitchen, langkah yang diperlukan untuk capai hasil maksimal

Guna membantu bisnis kuliner beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen, tim kompeten Nanas Media siap mengasistensi pelaku bisnis di bidang kuliner yang mencari celah memasuki pasar cloud kitchen.

“Nanas Media menyediakan jasa untuk memulai digitalisasi bisnis Anda. Tim profesional kami juga bisa membantu perencanaan serta pemasaran digital bisnis Anda,” sebut perwakilan tim Nanas Media.

Namun demikian, ada banyak hal yang perlu diperhatikan ketika akan menginjakkan kaki pada bisnis kuliner berkonsep cloud kitchen.

Pertimbangan dan persiapan matang, baik dalam segi operasional maupun non-operasional memiliki pengaruh besar pada bisnis kuliner berkonsep cloud kitchen.

Ada beberapa hal terkait operasional yang membutuhkan perhatian khusus, di antaranya adalah; pengelolaan pesanan, operasi pengiriman makanan, serta praktik kepegawaian.

Pada restoran berkonsep cloud kitchen, pesanan makanan akan masuk melalui saluran online, aggregator makanan pihak ketiga, media sosial, dan lainnya. Pengelolaan pesanan secara manual umumnya lebih menyita waktu dan cukup membingungkan. Maka, terapkan sistem pemesanan terpusat untuk kinerja yang jauh lebih efektif.

Selanjutnya, dalam berhadapan dengan jasa layanan pengiriman makanan erat kaitannya dengan volume. Oleh karena itu, perlu proses serta alur kerja pelaporan yang efisien untuk hasil yang memuaskan pelanggan.

Paling tidak, pastikan layanan yang Anda berikan optimal dan mengikuti prosedur operasi yang standar.

Hal ini mencakup akurasi pengiriman, baik dalam segi waktu juga koordinat pengiriman.

Praktik kepegawaian yang tepat juga diperlukan guna kerja yang lebih efisien. Persiapkan rencana kepegawaian dan penjadwalan staf sesuai tren penjualan. Cara ini bisa sangat membantu pelaku bisnis menangani volume produksi makanan pada tingkat tertentu.

Sementara itu, untuk mendukung efektivitas perihal operasional, pelaku bisnis cloud kitchen baiknya tetap awas pada otomatisasi serta pemanfaatan teknologi. Tak hanya menghemat waktu, pelaku bisnis juga bisa meminimalisir upaya manual yang umumnya membutuhkan usaha lebih banyak.

Poin terakhir yang memerlukan perhatian lebih, adalah memastikan setiap konsumen mendapatkan pengalaman yang memuaskan dari setiap pembeliannya. Mulai dari hal sesederhana, kemasan yang mampu menjaga kualitas makanan, hingga layanan yang komunikatif dan atentif, dapat menarik lebih banyak pelanggan di waktu mendatang. (Rully)

Tinggalkan komen