Jakartakita.com
Berita Jakarta, Info Jakarta Terkini, Berita Nasional, Bisnis Jakarta

Pameran Seni Tingkat Internasional Digelar di Bandung, Karya Prof. Dr. Rudy Harjanto Sukses Menarik Perhatian

0 2,534

Tiket Pesawat Murah Airy

foto : istimewa

Jakartakita.com – Pameran seni tingkat internasional, Nuansa Rupa International Contemporary Art Exhibition, di gelar mulai tanggal 14-28 Juni 2022 di Gastro Market Bandung Grand Central, Bandung.

Salah satu yang menarik perhatian adalah karya lukis dari Prof. Dr. Rudy Harjanto, berupa dua karya menawan yang menggunakan ‘Teknik Lukisan Kaca Cirebon’.

Teknik ini merupakan seni lukis yang menggunakan media kaca dengan cara melukis dilakukan terbalik atau melukis di bagian belakang. Sementara hasil lukisannya bisa dilihat dari bagian depan. 

Istilah lain yang digunakan untuk merujuk pada seni lukis dingin dan penyepuhan di bagian belakang kaca adalah verre églomisé, dinamai dekorator Prancis Jean-Baptiste Glomy (1711–86), yang membingkai cetakan menggunakan kaca yang telah dicat terbalik.  

Mengambil objek bunga matahari, karya pertama diberi judul ‘Persahabatan.’ Pada karya dengan akrilik dan pewarnaan akrilik dengan ukuran 62 cm x 82 cm tersebut, Prof. Rudy memperlihatkan lukisan bunga matahari mekar yang selalu bergerak mengikuti arah matahari. Hal ini melambangkan makna kepatuhan serta kesetiaan tanpa pernah menunjukkan pembangkangan. 

“Bunga matahari membawa kegembiraan murni yang mengantarkan makna-simbol umur panjang dan keberuntungan, hidup penuh vitalitas dan kelimpahan kecerdasan, merujuk kepada sebuah sebuah persahabatan yang abadi,” bebernya, seperti dilansir dalam keterangan pers, Jumat (17/6).

Sementara pada karya kedua, berjudul ‘Optimisme’ yang menggunakan akrilik dan pewarnaan akrilik dengan ukuran 62 cm x 82 cm. Prof Rudy menggambarkan bunga matahari sebagai simbol sifat optimis dan semangat yang tinggi.

Bunga matahari, lanjut Prof. Rudy, seakan bisa memberikan energi positif bagi siapa saja yang memandangnya dan mampu selalu memberikan kehangatan bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di alam semesta. 

“Layaknya matahari yang akan selalu menyinari alam semesta dan tidak pernah padam. Bunga matahari tampak begitu kuat dan tidak mudah rapuh yang melambangkan sifat tegar, optimis menuju hari esok,” jelas Prof. Rudy.

Artikel Terkait
1 daripada 15

Selain dua karya dari Prof. Rudy, ajang Nuansa Rupa International Contemporary Art Exhibition juga menampilkan karya-karya dari artis internasional, seperti; Cira Bhang (Prancis), Dudi Arte (Italia), Hagopian (Argentina), Halima Aziz (Palestina), Karina D. Simon (Singapura), Libardo Mojica (Kolombia), Maya Mekira (Jepang), Michal Avrech (Israel), dan Natalia March (Inggris).

Tampil pula karya dari seniman internasional lain, seperti; Nesar Ahmad (Afganistan), Nicole Mehika (India), Regina Kehrer (Jerman), serta Judith Valencia & Marco (Italia).

Dengan kurator A.K Patra Suwanda, karya-karya seniman internasional ini hadir bersama karya-karya dari puluhan seniman berbakat Indonesia.

foto : istimewa

Bersamaan dengan ajang Nuansa Rupa International Contemporary Art Exhibition, digelar pula beberapa rangkaian acara, seperti; International Art Symposium ‘Diversity In Contemporary Art’, artist talk dan workshop bertema ‘Art and Feminism Spirit, bincang seni ‘Fenomena Budaya Kebaya, Dulu, Kini dan Nanti’, serta berbagai performance art.

Prof. Rudy sebagai keynote speaker dalam simposium tersebut menjelaskan, bila seni adalah ekspresi perasaan pencipta yang dikomunikasikan kepada orang lain, sehingga mereka dapat merasakan apa yang dirasakan para seniman.

Karena itulah, lewat sebuah proses kreatif seorang seniman bisa mengutarakan gagasan, imajinasi hingga pengalaman batin yang merupakan ekspresi seniman dalam menyalurkan visi misi, opini, emosi, dedikasi hingga cinta, yang mampu berkomunikasi dengan penikmatnya.

Di sini, seni menjelma menjadi sebuah sarana komunikasi dan membangun jalinan silahturahmi persahabatan. 

“Dalam payung keindahan, seni mampu menyatukan manusia meski kita semua berbeda bangsa, negara, wilayah tempat tinggal atau garis-garis demarkasi lain yang biasanya melahirkan perbedaan budaya,” kata Prof. Rudy.

“Saya berharap, dengan pameran ini, kita semua bisa berbagi pengetahuan, pengalaman dan tentu saja keindahan. Karena saya yakin, dengan seni kita bisa menebarkan keindahan dan kebahagian di tengah dunia yang semakin menyesakkan,” pungkas Prof. Rudy.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan komen

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Open chat
1
Hello can we help you?