Take a fresh look at your lifestyle.

6 Mahasiswa Universitas Pertamina Bina Masyarakat Lorong Karang Anyar – Palembang untuk Bercocok Tanam dengan Metode Hidroponik

0 2,003
foto : dok. UPER

Jakartakita.com – Agar warga dapat memenuhi kebutuhan sayur secara mandiri, baru-baru ini, enam (6) mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) membina masyarakat Lorong Karang Anyar, Palembang untuk bercocok tanam melalui metode hidroponik.

Ke-enam mahasiswa lintas program studi asal Palembang tersebut, adalah: M. Agung Pradana (Program Studi Manajemen); Ahmad Hardiyansyah (Program Studi Teknik Kimia); Irdyna Syachira (Program Studi Teknik sipil); Ismail Marosy (Program Studi Teknik Sipil); Dewi Mirah Rezki (Program Studi Teknik Geologi); dan Putri Monika Pratami (Program Studi Teknik Logistik).

“Selain mencukupi kebutuhan pangan para anggota kelompok tani, kami juga menjual hasil panen ke masyarakat sekitar dengan harga yang relatif lebih murah. Kami juga dipercaya menyuplai kebutuhan sayuran ke salah satu hotel besar di Palembang, hingga mencapai delapan kilogram,” ungkap M. Agung Pradana selaku ketua tim, seperti dilansir dalam siaran pers, Rabu (27/7).

Dalam bercocok tanam dengan metode hidroponik, menurut koordinator lapangan, Ahmad Hardiyansyah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mahasiswa UPER yang sudah memiliki ketertarikan dengan hidroponik sejak di bangku sekolah tersebut, merangkumnya sebagai berikut:

1.Pilih Sistem Hidroponik yang Terjangkau

Untuk pemula, misalnya, menurut Hardiyansyah, sistem hidroponik yang bisa dipilih adalah sistem sumbu atau wicking.

“Sistem hidroponik ini dinilai paling cocok untuk pemula karena sederhana, murah, dan perawatannya mudah. Ditambah, tidak memerlukan alat khusus seperti pompa atau listrik,” terang Hardiyansyah.

Sementara itu, Hardiyansyah dan tim memilih sistem Nutrient Film Technique (NFT).

Related Posts
1 daripada 255

“Karena tujuan awal kami, selain untuk ketahanan pangan, juga ada keinginan untuk mengembangkan budidaya ke arah komersil. Dari hasil penelitian serta kajian literatur, kami menemukan bahwa metode NFT adalah yang paling sesuai untuk menyuplai kebutuhan sayur dalam jumlah banyak. Meskipun membutuhkan modal yang cukup besar, beruntungnya, kami mendapat dukungan dana dari kampus,” jelas Hardiyansyah.

2.Pilih Jenis Sayuran Sesuai Kebutuhan

Pemilihan jenis sayuran, lanjut Hardiyansyah, juga harus diperhatikan. Untuk tujuan konsumsi misalnya, tim sangat menyarankan memilih jenis sayuran yang cepat panen. Sementara untuk komersil, pilihlah sayuran yang suplainya sedikit di pasaran namun sangat diminati. Sayuran ini akan memiliki nilai jual yang tinggi.

“Beberapa jenis sayuran yang saat ini kami budidayakan adalah pakcoi dan selada dengan masa panen kurang lebih dua minggu. Ada juga kangkung dengan masa panen satu bulan. Dan yang terakhir sawi manis dengan masa panen dua bulan. Dari hasil budidaya ini, kami telah menghasilkan keuntungan mencapai 20 hingga 25 persen dari biaya raw material,” tutur Hardiyansyah.

3.Telaten dalam Setiap Tahapan

Agar dapat bertahan untuk jangka waktu panjang, dikatakan Hardiyansyah, tanaman hidroponik harus dirawat dengan telaten.

“Misalnya, dalam pemberian nutrisi AB mix, harus diperhatikan secara teliti takaran dan cara pencampurannya. Jangan sampai terlalu sedikit, atau justru kebanyakan. Pertumbuhannya juga harus diamati setiap hari,” jelasnya.

Untuk meminimalisir hama, tim menggunakan pestisida alami berupa cairan rendaman kulit bawang sebanyak 10 tetes yang dicampur dengan 500 hingga 1.000 ml air. Tim juga memasang fiber transparan agar tanaman mendapat pencahayaan matahari yang cukup. Tak lupa, memastikan arus air tidak terlalu kencang, agar tanaman bisa menangkap pupuk dan nutrisi dengan baik.

Tak hanya terjun langsung ke lapangan untuk melakukan kegiatan bercocok tanam, dikatakan Irdyna Syachira selaku koordinator acara, tim juga membuka forum diskusi dan konsultasi melalui media sosial.

“Kami secara rutin mempublikasikan kegiatan untuk menarik minat publik, serta memberikan tips and trick metode hidroponik,” terang Chira. (Edi Triyono)

Tinggalkan komen