Take a fresh look at your lifestyle.

Monash University – Pemprov Jawa Barat Teken MoU Terkait Revitalisasi Sungai Citarum

0 2,032
foto : istimewa

Jakartakita.com – Monash University, kampus asing pertama di Indonesia, telah menandatangani memorandum saling pengertian (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal pengelolaan limbah yang terintegrasi, terutama untuk membangun solusi penanganan limbah padat dan cair guna menghilangkan pembuangan sampah plastik ke sungai Citarum.

Penandatanganan ini dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Pro Vice-Chancellor and President of Monash University, Andrew Macintyre secara virtual di Gedung Pakuan Bandung, Kamis (11/5).

Dengan penandatanganan MoU ini, Monash University akan menjalin kemitraan formal selama 5 tahun (2023-2027) dengan Pemerintah Jawa Barat.

Selain itu, kolaborasi ini juga akan melibatkan kerja sama dengan para peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Badan Ilmu Pengetahuan Nasional Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) dan Swiss Federal Institute of Aquatic Science – Eawag

Seluruh pihak yang terlibat akan berkontribusi dengan berbagai keahlian multidisiplin dan dikolaborasikan dengan pengambilan keputusan yang berorientasi pada masyarakat di sekitar sungai Citarum.

Proyek ini nantinya akan menggabungkan inovasi teknologi dan sosial dan membentuk laboratorium hidup untuk mempelajari proses transformasi sungai, dan secara jangka panjang akan memberikan perubahan bagi salah satu sungai yang paling kotor di dunia. 

Program ini akan menilai keefektifan proyek percontohan zero-waste dalam mengurangi aliran limbah ke lingkungan, dan dampak dari tidak adanya pembuangan limbah pada sungai dan bentang alam.

Related Posts
1 daripada 3,240

Tim peneliti juga akan mengembangkan proof of concept untuk pengelolaan sampah secara terintegrasi, serta menyusun bukti untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan pada skala lokal, nasional, dan internasional.

Dalam jangka panjang, pengetahuan baru yang dihasilkan dari proyek ini akan digunakan sebagai strategi dalam mengatasi pencemaran sungai di Sungai Citarum dan sungai-sungai lainnya di Asia Tenggara untuk meningkatkan kehidupan masyarakat rentan yang bergantung pada sungai untuk air dan mata pencaharian.

Berbicara pada upacara penandatanganan, Pro Vice-Chancellor & President of Monash University Indonesia, Professor Andrew MacIntyre mengaku bahwa dirinya sangat senang melihat terealisasinya kemitraan antar institusi untuk memberikan layanan air dan penanganan limbah yang lebih baik, yang pada akhirnya dapat merevitalisasi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan.

“Kemitraan ini membawa kami selangkah lebih dekat dalam mewujudkan visi kami untuk menciptakan sungai yang bersih, sehat, dan produktif dengan menggunakan pendekatan baru yang memanfaatkan limbah, sehingga mendorong masyarakat menuju keberlanjutan. Kami benar-benar ingin membantu masyarakat beralih dari membuang limbah ke lingkungan, ke solusi sirkular, termasuk mendaur ulang dandan menggunakan kembali,” kata Profesor Andrew, seperti dilansir dalam siaran pers, Kamis (11/5).

Di kesempatan yang sama, Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen kuat untuk mengatasi persoalan polusi sungai Citarum.

“Saya berharap, kolaborasi antara pemerintah dengan para peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran dan Monash University ini dapat menjadi awal bagi kami, agar dapat mewariskan Citarum ke generasi berikutnya sebagai sungai yang bersih dan manusiawi,” jelas Ridwan Kamil.

Sementara itu, selaku Director of the Informal Cities Lab, bagian dari Monash Faculty of Art, Design and Architecture, Professor Diego Ramirez-Lovering memimpin proyek transformasi sungai Citarum.

Menurutnya, memorandum saling pengertian ini adalah sebuah pencapaian yang sangat penting bagi Monash dan mitra pendiri, Universitas Indonesia. Proyek ini menunjukkan dukungan luar biasa dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan daerah untuk Proyek Transformasi Citarum.

“Selama lima tahun terakhir tim kami telah mengembangkan roadmap dan masterplan revitalisasi sungai berdasarkan kepakaran interdisipliner. Kami sekarang siap untuk merancang bersama dan menguji proyek percontohan terintegrasi yang baru untuk mencapai zero-waste dan rehabilitasi sungai. Dalam perjalanannya, kami akan bekerja sama dengan berbagai kelompok dalam masyarakat yang berorientasi pada kearifan lokal, pengetahuan, kepekaan budaya, serta kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI),” bebernya.

Tinggalkan komen