Jakartakita.com – Penyanyi Afgan sukses menggelar Afgan retrospektif: The Concert di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (19/7/2026). Konser yang dipromotori Seven Star Production ini menjadi selebrasi perjalanan 18 tahun karier Afgan melalui konsep Grand Symphonic Universe yang memadukan musik, visual, dan storytelling.
Lebih dari 4.000 penonton menyaksikan pertunjukan yang membawakan sekitar 30 lagu pilihan dengan aransemen megah dari Erwin Gutawa Orchestra. Konser ini juga didukung oleh PT Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai sponsor utama.

CEO & Founder Seven Star Production, Dolly Sartika, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya penyelenggaraan konser yang telah dipersiapkan hampir satu tahun.
“Antusiasme lebih dari 4.000 penonton menjadi apresiasi terbaik bagi seluruh tim dan memotivasi kami untuk terus menghadirkan pertunjukan musik berkualitas,” ujarnya.
Konser dibagi menjadi empat babak yang menggambarkan perjalanan musikal Afgan, mulai dari awal karier hingga fase pendewasaan sebagai musisi. Pertunjukan dibuka dengan lagu Misteri Dunia, kemudian berlanjut dengan penampilan megah Erwin Gutawa Orchestra yang mengiringi Afgan membawakan Jalan Terus.
Pada babak berikutnya, Afgan menampilkan eksplorasi musik melalui lagu-lagu dari album berbahasa Inggris, seperti Shallow Water dan Say I’m Sorry. Sementara di penghujung konser, lagu Dia, Dia, Dia dan Kacamata sukses mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama.
Afgan mengaku konser tersebut menjadi momen paling personal sepanjang kariernya.
“Konser ini merupakan selebrasi atas semua perjalanan yang telah kita lewati bersama. Saya berharap penonton tidak hanya pulang membawa kenangan, tetapi juga sesuatu yang lebih bermakna,” katanya.
Konser semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah musisi tamu. Kris Dayanti tampil berduet bersama Afgan membawakan medley lagu Kepastian, Kamu Yang Ku Tunggu, Percayalah, dan Ada.
Sementara itu, Mahalini membawakan lagu Sadis, sedangkan Petra Sihombing menghadirkan penampilan emosional lewat lagu Peluk yang diiringi gitar akustik dan paduan suara Paragita. Momen tersebut semakin syahdu ketika ribuan penonton menyalakan lampu ponsel hingga memenuhi Plenary Hall.
Tak hanya menyuguhkan tata panggung megah, konser ini juga menghadirkan pengalaman audio sinematik melalui teknologi cinematic sound surround yang membuat pengalaman menonton terasa semakin imersif.
Di balik pertunjukan tersebut, Creative Director Shadtoto Prasetio merancang konsep Grand Symphonic Universe, sementara seluruh kostum Afgan dikurasi oleh Ajeng Svastiari menggunakan karya desainer lokal Indonesia, seperti Sapto Djojokartiko, Sean & Sheila, Temma Prasetio, dan Alto Project. (Risma)
