Info Jakarta - Berita Jakarta - Semua Tentang Jakarta

Bidik Top 5 Market Share, Evercoss Dukung Aturan Validasi IMEI

664

Jakartakita.com – Terkait rencana pemerintah melakukan aturan validasi IMEI (International Mobile Equipment Identity), brand smartphone lokal – Evercoss mendukung langkah strategis tersebut.

Aturan tersebut, menurut Suryadi Willim, Marcomm Manager Evercoss akan berdampak positif terhadap persaingan smartphone di tanah air.

Bagaimanapun, lanjut Suryadi, dengan dirilisnya kebijakan tersebut akan mengerem peredaran ponsel Black Market (BM) karena nomor IMEI-nya tidak terdaftar di Kementerian Perindustrian.  

Sebagaimana diketahui dengan system yang dimiliki pemerintah bernama SIBINA (Sistem Informasi Basisdata IMEI Nasional) mampu mendeteksi terhadap IMEI smartphone. Jika IMEI sebuah smartphone tidak terekam di system itu, maka ponsel tersebut secara otomatis direkomendasikan oleh SIBINA agar operator memblokir layanan.  

Dengan system tersebut, Evercoss merasa ada harapan untuk kembali berkompetisi lebih sengit di industri smartphone tanah air.

Bagaimanapun peredaran ponsel Black Market, menurut Suryadi, sangat berdampak terhadap pasar smartphone di tanah air.  

Dijelaskan, dengan harga yang sama, semisal Rp. 1.200.000.- konsumen bisa mendapatkan smartphone Black Market dengan spesifikasi lebih tinggi dibanding dengan smartphone Evercoss.

Artikel Terkait
1 daripada 40

Mestinya, lanjut Suryadi, harga smartphone tersebut berada pada kisaran Rp. 1.500.000 s/d Rp. 1.700.000.- Smartphone Black Market ini bisa menjualnya dengan harga Rp. 1. 200.000, malahan ada yang di bawah harga pasaran.

“Bagaimana kami bisa bersaing dengan smartphone Black Market. Posisi kami sebagai pemain legal dan menaati peraturan justru disengat dengan siraman ponsel Black Market,” ungkap Suryadi dalam keterangan pers, Jumat (16/8/2019).    

“Dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun ini kami tersengat dengan gempuran ponsel Black Market. Jika ini tidak segera diantisipasi, kami yakini akan berdampak lebih buruk lagi terhadap industri smartphone nasional secara keseluruhan. Kami membaca laporan dari Asosiaasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI), peredaran ponsel Black Market mencapai 20-30 persen. Merugikan Negara sekitar Rp2.8 triliun per tahun. Angka yang sangat fantastis,” beber Suryadi.

Bagaimanapun, lanjutnya, maraknya smartphone Black Market (BM) sangat merusak ekosistem industri. Evercoss yang sudah memiliki pabrik smartphone di Semarang, Jawa Tengah dan merakit sendiri smartphone sangat merasakan dampak negatif peredaran smartphone BM.

Lebih lanjut dirinya juga meyakini, dengan terbitnya aturan Validasi IMEI, Evercoss bisa kembali bersaing dengan sengit dan bisa bertengger di Top 5 market share smartphone Indonesia.

Sekarang ini, brand kebanggaan masyarakat Indonesia ini, mengandalkan produk Xtream Series. Beberapa smartphone Xtream series yang beredar di pasaran adalah Xtream 2 Plus,  smartphone dengan spesifikasi gaming ini disupport dengan RAM 2GB, CPU Octa Core 1.6 GHz. Performanya dijamin dahsyat dan anti lelet.

Layar yang dimiliki Xtream 2 Plus inipun terbilang lebar, 5.5 inchi dengan teknologi IPS full screen. Sehingga memainkan game di layar smartphone terasa lebih nyaman dan lapang.

“Harganya pun sangat terjangkau, dibawah Rp. 1 juta dan memiliki keunggulan berupa Unlimited YouTube untuk 24 Jam selama 1 tahun,” tandasnya. (Edi Triyono)       


Interested in writing for Jakartakita.com? We are looking for information and opinions from experts in a variety of fields or others with appropriate writing skills.
The content must be original on the following topics: lifestyle (beauty, fashion, food), entertainment, science & technology, health, parenting, social media, and sports.
Send your piece to redaksi@jakartakita.com